Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

K3 Forklift: jenis, pelatihan dasar hukum dan pengoperasian secara aman

forklift



K3 forklift bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan ketaatan pemenuhan K3 pada pengoperasian forklift, meningkatkan  partisipasi semua pihak dalam mencapai pengoperasian aman pada forklift secara optimal disetiap kegiatan operasi dan meningkatkan penerapan kemampuan operator forklift untuk menuju masyarakat mandiri berbudaya K3.

Forklift ialah suatu alat yang terdiri dari body (badan) dan work equipment yang difungsikan untuk mengangkat barang serta memindahkan barang tersebut dan menyusunya dimana barang itu dipindahkan.

Forklift dasarnya terdiri dari dua fork (garpu) yang dipasang pada mast serta dapat digerakan naik ataupun turun serta miring kedepan atau belakang. Gerakan tersebut digerakan oleh tenaga hidrolik. Untuk menaikan atau menurunkan benda serta menyusunnya, dibutuhkan seorang yang operator yang mengerti tentang arti keselamatan kerja serta terlampil dalam mengoperasikan forklift.

Forklift ditemukan oleh seorang Bernama pennyslvavia railroad pd th 1906 pd abad 19 sampai awal abad 20, dengan memperkenalkan platform bertenaga baterai truk untuk memindahkan barang-barang dialtona, Pennsylvania stasiun ketera api.


Faktor penyebab kecelakaan kerja

Kecelakaan kerja merupakan kejadian tidak terduga dan tidak dikehendaki yang bisa mengakibatkan sakit, cidera serta kerugian baik secara lingkungan dan manusia. Dengan mengetahui faktor penyebab kecelakaan kerja, setiap pekerja dapat melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi, apa saja faktor penyebabnya ?

Kecelakkan kerja notabene terjadi karena dua kondisi berikut yaitu unsafe condition (kondisi tidak aman) dan unsafe action (Tindakan tidak aman).

Contoh dari unsafe condition = peralatan yang rusak, mesin dalam keadaan tidak baik, pelindung tubuh tidak baik dan layout tidak baik.

Sementara untuk unsafe action = para pekerja kurang mendapat training, kurang disiplin dan SOP tidak baik.


Penyebab utama kecelakaan forklift :

1. Kurang pengetahuan atau kurangnya training operator forklift

2. Kurang pengalaman atau kurang perhatian dari operator pada pekerjaan yang ditanganinya

3. Salah penggunaan pallet, pallet rak atau block stack

4. Kesalahan fungsi mekanikal karena kurang perawatan dan kerusakan konstruksi

Operator juga harus memeriksa beban dari forklift sebelum digunakan, operator juga tidak diperkenankan untuk menangani perbaikan pada forklift yang mengalami problem.


Kecelakaan forklift yang sering terjadi biasanya penyebrang jalan tertabrak forklift, operator kejatuhan benda yang sedang diangkut, pejalan kakai kejatuhan benda dan operator terluka karena forklift terguling.

Aturan dasar keselamatan :

  • Hanya bisa doperasikan oleh operator yang sudah diberikan pelatihan
  • Operator harus memiliki fisik yang sehat
  • Operator harus memiliki pengelihatan yang baik
  • Operator harus  diperhitungan yang baik
  • Kecepatan maksimal didalam ruangan ialah 8 km/jam, sementara untuk pengoperasian diluar ruangan maksimal hanya 12 km/jam

Jenis forklift ditinjau dari

1. tenaga pengerak

  • Forklift bensin
  • Forklift elektrik
  • Forklift diesel
  • Forklift gasoline

2. Posisi garpu

  • Posisi garpu disamping
  • Posisi garpu didepan

Manfaat pelatihan pengoperasian forklift:

1. Memberikan pemahaman tentang landasan dari pengoperasian aman forklift sesuai dengan aspek K3

2. Untuk membantu para operator forklift mencapai sasaran keselamatan dan Kesehatan kerja yang ada

3. Untuk memperkecil kemungkinan kecelakaan kerja serta meningkatkan produktifitas dan zero accident/incident (nihil kecelakaan).


Dasar hukum di Indonesia: PERMENAKER NO.08 TH 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut.


Pasal 68 : Landasan sebagai tumpuan atau lintasan untuk Pesawat Angkut harus mempunyai konstruksi pondasi yang kuat menahan beban, rata, stabil, dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan standar yang berlaku.


Pasal 76

Tiang (mast) pada forklift harus:

a. Dapat menahan benda keija sesuai dengan standar yang berlaku

b. Dapat menahan rantai pengggerak garpu (fork)

c. Dilengkapi pembatas (stopper) pada titik pengangkatan tertinggi 

d. Dilengkapi tempat dudukan sandaran muatan (back rest).


Pasal 77

(1) Garpu (fork) pada forklift:

  • Harus dibuat dengan faktor keamanan paling rendah 3 (tiga)
  • Tidak mengalami defleksi melebihi sebesar 1/33 (satu per tiga puluh tiga) dikali panjang garpu
  • Tidak diluruskan dan/atau dilakukan pengelasan pada garpu yang mengalami bengkok atau patah
  • Tidak mengalami penipisan garpu lebih dari 10% 
  • Harus dilengkapi pengatur dan pengunci posisi pada dudukan jika forklift menggunakan fork ganda 
  • Tidak mengalami perbedaan ketinggian lebih dari 3% dari panjang garpu apabila forklift memakai garpu (fork) ganda.

(2) Dalam penggunaan garpu (fork) pada forklift dilarang memasang alat tambahan untuk  memperpanjang garpu (fork).

Pasal 81 : Dalam pasal ini mengatur tentang Landasan forklift, lift truck, reach stackers, dan telehandler. Bahwasanya landasan harus kuat dan juga bidang rata, pemberian tanda area lintasan, tidak memiliki belokan yang memiliki sudut yang tajam juga tidak mempunyai tanjakan atau turunan yang dapat mengganggu keseimbangan

Pasal 82: Setiap orang dilarang mengoperasikan forklift, lifttruck, reach stackers dan telehender dengan tenaga penggerak motor bakar diarea kerja yang memiliki bahan mudah meledak dan/atau dalam ruangan tertutup.

Pasal 83: Sebelum memuat dan membongkar muatan, rem pada Forklift, reach stacker, telehandler, dan sejenisnya harus digunakan dan jika di atas tanjakan, roda harus diberi penahan.

Pasal 84: Jarak bebas sisi lintasan yang dilalui forklift, telehandler dan sejenisnya paling sedikit:

  • 60 cm (enam puluh sentimeter) diukur dari sisi terluar pesawat atau sisi terluar muatan yang paling lebar jika digunakan lalu lintas satu arah 
  • 90 cm (sembilan puluh sentimeter) diukur dari sisi terluar di antara dua pesawat atau sisi terluar di antara muatan yang paling lebar di kedua pesawat jika digunakan lalu lintas 2 (dua) arah.

Pasal 85

(1) Forklift pada saat dioperasikan dalam keadaan berjalan:

  • Garpu (fork) atau permukaan bagian bawah muatan harus berjarak paling tinggi 15 cm (lima belas sentimeter) diukur dari permukaan landasan; dan
Harus berjarak paling dekat 10 m (sepuluh meter) dari bagian belakang kendaraan yang berada di depannya.

(2) Forklift pada saat sedang tidak dioperasikan harus ditempatkan pada landasan yang rata tanpa ada kemiringan dengan kondisi rem terkunci dan garpu sisi terbawah menempel pada permukaan landasan.

(3) Forklift dilarang digunakan untuk tujuan lain selain untuk mengangkat, mengangkut, dan meletakkan muatan/ barang.


Forklift harus di reksa uji apabila masih baru diuji setiap 2 tahun sekali apabila sudah lama hanya setahun sekali.


kesimpulan dari peraturan keselamatan pengoperasian :

1. Jangan mengangkat barang melebihi batas daya angkat forklift

2. Periksa dahulu seluruh pengontrol dan pin pengunci garpu sebelum dioperasikan

3. Jangan mengangkut penumpang

4. Jangan mengangkat orang lain dengan pallet atau garpu

5. Jangan mengeluarkan anggota badan dari kanopi

6. Jaga jarak ketinggian antara garpu dengan lantai (jarak 15 cm dri permukaan tanah)

7. Memperhatikan kondisi sekitar Ketika Ketika sedang berjalan

8. Gerakan tiang mast kebelakang secukupnya untuk menjamin barang tetap stabil.


Maintain 3 point contact

  1. Pegang pegangan yang ada dibagian depan
  2. Pegang besi/pengaman bagian belakang
  3. Pijak pijakan kaki yang ada, pastikan memegang itu dengan mantap, agar tidak terlepas serta tidak terpeleset Ketika naik maupun turun




Posting Komentar untuk "K3 Forklift: jenis, pelatihan dasar hukum dan pengoperasian secara aman"