Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Identifikasi Bahaya (risk identification) di Tempat Kerja: cara, metode, pengumpulkan informasi, pembuatan catatan identifikasi bahaya


Identifikasi bahaya



Identifikasi bahaya merupakan uapaya pengenalan bahaya dilingkungan pekerjan guna mengetahui, mengenali dan memperkirakan sumber bahaya atau bahaya potensial dilingkungan kerja secara sistematis agar potensi bahaya tersebut tidak menjadi pengganggu ataupun kecelakaan ketika bekerja. Dengan ini juga para pekerja dapat bekerja dengan aman dan dapat melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi insiden kecelakaan kerja.

Bahaya di tempat kerja dapat berasal dari banyak sumber, dan seringkali terjadi tanpa disadari. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengidentifikasi bahaya di tempat kerja. Identifikasi bahaya k3 dan pengendalian risiko bahaya pekerjaan konstruksi untuk mempelajari bagaimana mengidentifikasi bahaya di tempat kerja untuk  mencegah risiko kecelakaan sangatlah penting untuk dilakukan agar terhindar dari kecelakaan kerja.

Saat Anda bekerja, apa yang Anda pikirkan tentang bahaya yang mungkin terjadi? Anda mungkin berpikir tentang musuh Anda yang akan segera datang, atau Anda mungkin berpikir tentang bahaya yang mungkin terjadi di tempat Anda bekerja. Sebenarnya, bahaya dapat berada di mana saja dan kapan saja. 

Bahaya tidak selalu berarti sesuatu yang akan menyakiti Anda secara fisik. Bahaya dapat berupa pekerjaan yang membahayakan, seperti menggunakan mesin atau peralatan yang berat. Bahaya juga dapat berupa bahan kimia yang membahayakan, seperti asam atau bahan korosif lainnya.


Berikut ini adalah 5 Cara untuk Mengidentifikasi Bahaya di Tempat Kerja :

  1. Memahami Dokumen Perencanaan
  2. Mendengarkan Petunjuk dan Saran dari Pengawas
  3. Mengamati Lingkungan Sekitar
  4. Mengamati Peralatan dan Mesin yang Digunakan
  5. Melaporkan setiap Potensi Bahaya yang Ditemukan


1. Memahami Dokumen Perencanaan

Dokumen perencanaan merupakan acuan utama dalam melaksanakan suatu pekerjaan, sehingga penting untuk memahaminya dengan baik. Dokumen perencanaan biasanya mengandung informasi mengenai identifikasi bahaya dan pengendalian risiko yang harus dilakukan agar pekerjaan dapat berjalan dengan aman. Oleh karena itu, setelah mempelajari dokumen perencanaan, sebaiknya dilakukan identifikasi bahaya dan pengendalian risiko sesuai dengan instruksi yang ada.

2. Mendengarkan Petunjuk dan Saran dari Pengawas

Pekerjaan di lapangan seringkali menimbulkan bahaya, sehingga diperlukan pengawas untuk memantau pekerjaan dan memberikan petunjuk dan saran agar dapat terhindar dari potensi bahaya. Oleh karena itu, sebaiknya selalu mendengarkan petunjuk dan saran dari pengawas agar dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja.

3. Mengamati Lingkungan Sekitar

Lingkungan sekitar seringkali menyimpan potensi bahaya yang belum teridentifikasi. Oleh karena itu, sebaiknya rutin melakukan inspeksi lingkungan sekitar agar dapat menemukan potensi bahaya sebelum terjadinya kecelakaan. Inspeksi lingkungan sebaiknya dilakukan secara berkala agar potensi bahaya dapat segera diidentifikasi dan diatasi sebelum terjadinya kecelakaan.

4. Mengamati Peralatan dan Mesin yang Digunakan

Peralatan dan mesin yang digunakan seringkali berisiko tinggi, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, sebaiknya rutin melakukannya inspeksi peralatan dan mesin agar dapat menemukan potensi bahaya sebelum terjadinya kecelakaan. Inspeksi peralatan dan mesin sebaiknya dilakukansebelum digunakannya agar potensi bahaya dapat segera diidentifikasi dan diatasi secara efektif.

5. Melaporkas setiap Potensi Bahaya yang Ditemuken

Setelah melakukannya identifikasi bahaya, sebaiknya langsung melaporkannya kepada atasan dengan tujuan agara atasan tahu apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah situasi yang tidak safety dan terjadinya kecelakaan kerja. Melapor potensi bahaya yang sedang ditimbulkan oleh sumber bahaya penanganan segera sebaiknya dilakukaan dalam keadaan segera dan laporkan potensinya bahaya kepada operator sebelum dilaksanakannya kegiatan dan melaporkannya ke petugas lapangan agar potensi  bahaya ditempat kerja dapat dikendalikan dengan baik dan proses identifikasi bahaya ditempat kerja dapat dipraktekan secara efektif.


Metode untuk Mengidentifikasi Bahaya di Tempat Kerja

Identifikasi bahaya k3 adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengenali bahaya di tempat kerja. Metode ini berfokus pada tiga komponen utama yaitu, penilaian risiko, penetapan pengendalian risiko, dan pengendalian risiko.

Penilaian risiko dilakukan dengan menganalisis kemungkinan terjadinya suatu bahaya dan dampak yang akan timbul jika bahaya tersebut benar-benar terjadi. Hasil dari penilaian risiko ini akan memberikan gambaran kepada pekerja tentang bahaya yang mungkin terjadi di tempat kerja dan bagaimana cara mengendalikannya.



Penetapan pengendalian risiko dilakukan setelah penilaian risiko selesai dilakukan. Pengendalian risiko ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya suatu bahaya atau sebagai upaya untuk mengurangi dampak yang akan timbul jika bahaya tersebut terjadi.

Pengendalian risiko k3 berfokus pada tiga aspek utama yaitu, pencegahan kerugian, pengurangan kerugian, dan peningkatan keselamatan kerja. 

  • Pencegahan kerugian bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu bahaya sebelum bahaya itu terjadi. 
  • Pengurangan kerugian bertujuan untuk mengurangi dampak yang akan ditimbulkan jika suatu bahaya terjadi. 
  • Peningkatan keselamatan kerja bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pekerja sehingga pekerja dapat bekerja dengan lebih aman.

Dengan menggunakan metode identifikasi bahaya k3, diharapkan pekerja dapat mengenali bahaya yang mungkin terjadi di tempat kerja dan mengambil tindakan yang perlu untuk mengendalikan risiko yang ada. Proses identifikasi bahaya meliputi pengumpulan informasi tentang bahaya yang mungkin timbul, analisis informasi tersebut, dan penyusunan daftar bahaya yang perlu dikendalikan.


Pengumpulan informasi dalam identifikasi bahaya meliputi:

  1. Wawancara dengan pekerja/karyawan yang berpengalaman tentang bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka.
  2. Observasi langsung tentang bagaimana pekerja melakukan pekerjaannya.
  3. Studi literatur tentang kecelakaan kerja, kerusakan lingkungan, atau gangguan kesehatan yang terjadi di tempat kerja.
  4. Analisis data kecelakaan kerja, kerusakan lingkungan, atau gangguan kesehatan yang terjadi di tempat kerja.
  5. Review dokumen (blueprints, spesifikasi teknis, manual operasional, dll) tentang suatu proses atau kegiatan.


Analisis data yang diperoleh melalui pengumpulan informasi akan menghasilkan daftar bahaya yang perlu dikendalikan. Daftar bahaya ini akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan pengendalian risiko yang perlu dilakukan. Pengendalian risiko adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan bahaya, atau untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bahaya tersebut jika terjadi kecelakaan atau gangguan kesehatan.


Pengendalian risiko dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan:

  • Menghilangkan atau mengurangi bahaya dengan mengubah proses atau kegiatan yang berbahaya.
  • Menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, kacamata pelindung, sarung tangan, dll.
  • Memberikan pelatihan kepada pekerja tentang cara melakukan pekerjaannya dengan aman.
  • Menyediakan petunjuk dan instruksi operasional yang jelas dan mudah dipahami oleh pekerja.
  • Merencanakan langkah-langkah untuk mengatasi kecelakaan atau gangguan kesehatan yang mungkin terjadi.
  • Melakukan pengawasan secara rutin untuk memastikan bahwa pengendalian risiko berjalan efektif.


Pengendalian risiko yang dilakukan haruslah sesuai dengan tingkat risiko yang ada. Jika risiko yang ada sangat tinggi, maka pengendalian risiko yang dilakukan haruslah lebih ketat dan berorientasi pada prevention (pencegahan). Jika risiko yang ada relatif rendah, maka pengendalian risiko yang dilakukan dapat lebih fleksibel dan berorientasi pada mitigation (penurunan dampak). 

Pengendalian risiko juga harus disesuaikan dengan kondisi tempat kerja, seperti ukuran tempat kerja, jumlah pekerja, jenis pekerjaan yang dilakukan, dll.



Setelah melakukan identifikasi bahaya dan menentukan pengendalian risiko yang perlu dilakukan, perusahaan harus melakukan evaluasi secara rutin untuk memastikan bahwa identifikasi bahaya dan pengendalian risiko yang dilakukan sudah sesuai dengan perkembangan tempat kerja. Evaluasi ini biasanya dilakukan setiap 6 bulan sekali atau setiap tahun. 

Evaluasi juga perlu dilakukan setiap kali ada perubahan besar di tempat kerja, seperti perubahan proses atau kegiatan, perubahan Peraturan perusahaan, atau adanya kecelakaan kerja atau gangguan kesehatan.


Evaluasi Hasil Identifikasi Bahaya

Hasil identifikasi bahaya k3 harus dievaluasi secara obyektif agar dapat ditentukan apakah suatu bahaya berpotensi menimbulkan kerugian atau tidak. Evaluasi ini dilakukan dengan membandingkan data yang ada dengan standar yang telah ditetapkan. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa suatu bahaya berpotensi menimbulkan kerugian, maka perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan bahaya tersebut.


Membuat Catatan Identifikasi Bahaya

Anda harus selalu waspada terhadap bahaya di sekitar Anda. Untuk membantu Anda melakukannya, Anda dapat membuat catatan identifikasi bahaya. Catatan ini akan mencantumkan semua bahaya yang mungkin terjadi di tempat kerja Anda. Catatan ini akan membantu Anda dan rekan-rekan kerja Anda untuk segera mengenali bahaya dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghindari bahaya tersebut.

Setiap tempat kerja memiliki potensi bahaya tertentu. Misalnya, jika Anda bekerja di sebuah pabrik, Anda mungkin berada di dekat mesin-mesin berat atau peralatan berbahaya. Jika Anda bekerja di sebuah laboratorium, Anda mungkin berada di dekat bahan kimia berbahaya. Catat semua bahaya yang mungkin terjadi di tempat kerja Anda. Selain itu, catat bagaimana Anda dapat menghindari setiap bahaya tersebut.

Berikan catatan identifikasi bahaya kepada rekan-rekan kerja Anda. Catatan ini akan membantu mereka untuk segera mengenali bahaya dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghindari bahaya tersebut. Catatan ini juga akan menjadi bukti jika suatu bahaya menyebabkan cedera atau kerugian materi.



Jaga catatan ini dengan baik. Catatan ini akan menjadi bukti jika suatu bahaya menyebabkan cedera atau kerugian materi. Catatan ini juga akan membantu Anda dan rekan-rekan kerja Anda untuk segera mengenali bahaya dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghindari bahaya tersebut.


Posting Komentar untuk "Identifikasi Bahaya (risk identification) di Tempat Kerja: cara, metode, pengumpulkan informasi, pembuatan catatan identifikasi bahaya"